Pengaruh Iklim Organisasi Terhadap Komitmen, Kepuasan Kerja Dan Prestasi Kerja (Studi pada ....) (2008) (Ket. X1 = iklim organisasi, X2 = komitmen, X3 = kepuasan kerja dan Y = prestasi kerja) (Kode:02)


Dalam beberapa tahun terakhir ini, para ahli di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) semakin banyak mengarahkan perhatiannya pada perilaku organisasi (organizational behaviors) baik pada tingkatan manajer level atas maupun pekerja atau pegawai secara keseluruhan. Perkembangan serta kemajuan di berbagai bidang, yang ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan yang berarti pada lingkungan organisasi, ikut merangsang berkembangnya tingkat profesionalitas yang berorientasi pada keunggulan kompetitif untuk memenangkan setiap persaingan yang ada.

Untuk mencapai tingkat keunggulan bersaing yang tinggi dan berkesinambungan, sebuah organisasi tidak lagi semata-mata tergantung pada kemajuan teknologi yang dipergunakan ataupun posisi strategis, akan tetapi lebih menekankan pada pengelolaan tenaga kerja atau sumber daya manusia yang ada, (Pfeffer, 1995). Meskipun demikian, pengelolaan sumber daya manusia juga tidak hanya menekankan pada efisiensi serta efektivitas organisasi saja, tetapi juga menekankan pada tataran nilai-nilai individu yang dianut oleh pegawai. Hal tersebut menjadi salah satu elemen pokok dalam organisasi yaitu kesediaan dan kemauan para pegawai untuk memberikan daya upaya mereka secara nyata pada tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh.
1
 
Menurut Gibson (1996), iklim organisasi merupakan serangkaian sifat lingkungan kerja, yang dijalani dan dinilai langsung maupun tidak langsung oleh pegawai, yang dianggap menjadi kekuatan utama dalam mernpengaruhi perilaku individu. lklim organisasi, mempunyai fungsi mempengaruhi tindakan pegawai sebagai individu yang mandiri atau bagian dari sebuah interaksi kelompok maupun sebagai bagian kolektif dari organisasi. Singkatnya, bahwa adanya iklim organisasi yang baik dan kondusif akan mempengaruhi produktivitas, komitmen, prestasi kerja, dan kepuasan kerja pegawai.

Davis (1985), menyatakan bahwa iklim organisasi adalah lingkungan manusia dimana para pegawai organisasi melakukan pekerjaan mereka. Pengertian ini mengacu pada lingkungan suatu departemen, unit perusahaan yang penting atau suatu organisasi secara keseluruhan. Pada gilirannya, iklim dipengaruhi dan/atau mempengaruhi hampir semua hal yang terjadi dalam suatu organisasi. Iklim adalah merupakan suatu konsep sistem yang dinamis.
Organisasi yang memperlakukan pegawainya sesuai dengan martabat dan integritasnya, akan menghasilkan peningkatan moral, kinerja dan produktivitas, serta menekan tingkat pergantian pekerja, meningkatkan kepuasan, dan meningkatkan reputasi dan kredibilitas organisasi secara menyeluruh. Menurut Lewis, Goodman, dan Fandt (2001), pegawai yang bekerja dalam sebuah organisasi yang menganut nilai-nilai etis dan iklim organisasi yang baik, akan merasakan keuntungan ganda karena mereka tahu bahwa mereka akan dilindungi baik secara organisatoris, maupun dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, sebagian besar pegawai akan menyatakan perasaan tidak nyaman ketika mereka bekerja dalam sebuah organisasi yang menunjukkan iklim yang tidak kondusif.
Purnomosidhi (1996) menyatakan bahwa iklim organisasi yang tidak menunjang penampilan kerja yang produktif, penyediaan teknologi dan kondisi kerja yang tidak memadai, arus komunikasi yang tidak menunjang dalam artian jumlah maupun kualitas, praktek pengambilan keputusan yang tidak obyektif di semua organisasi maupun kesejahteraan pegawai yang kurang diperhatikan di sisi lain, akan mengakibatkan rendahnya tingkat kepuasan dan prestasi kerja.
Sims dar Kroeck (1994) menyatakan bahwa iklim etis dalam organisasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya komitmen dan kepuasan kerja karyawan. Hal ini menunjukkan kejelasan pengaruh atau hubungan yang erat, bahwa dengan menangani dan menciptakan iklim yang kondusif dalam organisasi, akan berdampak pada timbulnya komitmen yang kuat dari karyawan untuk bertahan dan memajukan serta meningkatkan kinerja organisasi.
Satu hal yang sangat mendasar bahwa untuk membangun komitmen, baik pada tataran individu maupun pada tataran organisasional secara menyeluruh, tidak terlepas dari kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang baik dan menunjang. Gejala yang seringkali muncul dalam sebuah organisasi baik bisnis maupun publik sebagai akibat dari kurang stabilnya organisasi adalah rendahnya tingkat kepuasan kerja dan prestasi kerja yang dicapai oleh pegawai. Akibat  paling ekstrim yang dapat ditimbulkan oleh ketiga hal di atas adalah terjadinya pemogokan, kelambanan, kemangkiran, dan tingkat keluarnya karyawan yang cukup tinggi.
Davis (1996) menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja yang tinggi dari pegawai merupakan tanda bahwa organisasi telah dikelola dengan baik, dan merupakan hasil dari manajemen perilaku yang efektif. Kepuasan dan prestasi kerja adalah sebuah tolak ukur terhadap suatu proses pembangunan dan pengembangan iklim yang berkelanjutan dalam organisasi.
Tingkat kepuasan kerja juga dianggap sangat penting sebagai sebuah proses pencapaian aktualisasi Diyakini bahwa pegawai yang tidak dapat memperoleh kepuasan kerja, tidak akan mencapai kematangan psikologis yang pada gilirannya akan menyebabkan stres, serta berimplikasi pada pencapaian kinerja yang tidak rnaksimal. Strauss dan Sayless (1996) menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja mempunyai arti yang sangat penting baik bagi pegawai maupun bagi organisasi, terutama karena hal ini dapat menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja serta pencapaian prestasi kerja yang lebih baik.
Salah satu upaya dalam meningkatkan kepuasan kerja pegawai adalah dengan menciptakan lingkungan kerja atau iklim organisasi yang kondusif dan menguntungkan. Perilaku pemimpin dalam hal ini sangat menentukan terciptanya keadaan tersebut, dimana keberadaan iklim pada kebanyakan organisasi dibentuk oleh kepemimpinan yang tepat dan dkomunikasikan juga secara tepat dengan para bawahan secara keseluruhan.
Kepuasan kerja dan prestasi kerja adalah merupakan variabel organisasi yang sangat penting untuk terus diteliti dan dipelajari, karena terkait erat dengan berbagai proses penting dalam aktivitas keorganisasian diantaranya motivasi, komitmen, dan pergantian pegawai (Kohn dan Boo, 2001). Seseorang secara individual dapat mencapai tingkat kepuasan kerja dan kinerja yang baik dalam kondisi tertentu, akan tetapi pada kondisi lain dia tidak dapat mencapainya. Hal yang   penting untuk dipelajari adalah apakah eksekutif atau pejabat di Indonesia dapat mencapai level tertentu dari kepuasan kerja serta kinerja yang maksimal dalam organisasi mereka.
Kenyataan ini dianggap berlaku universal baik pada organisasi bisnis maupun pada organisasi publik. Pada organisasi bisnis, dalam operasionalnya dituntut untuk mampu menciptakan kondisi iklim yang kondusif baik secara organisatoris maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Sebagai perusahaan yang independen harus mampu bekerja secara mandiri tanpa intervensi dari pihak manapun. Maka dengan iklim organisasi yang baik dan kondusif, hal ini memungkinkan untuk dicapai, dan selanjutnya akan berimplikasi pada tercapainya tingkat kepuasan kerja dan kinerja aparat secara maksimal serta tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh.
Perusahaan merupakan organisasi yang harus dapat dikelola dengan profesional dan dituntut agar memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan kualites kinerja yang lebih baik. Keberadaan karyawan dengan integritas dan kualifikasi tertentu untuk menduduki suatu jabatan strategis, adalah sangat penting untuk menjadi pertimbangan. Dalam artian yang lebih luas, produktivitas serta kualitas pelayanan akan sangat mempengaruhi persepsi masyarakat dalam menilai kinerja perusahaan secara organisasional.
Untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas perusahaan, tentu saja berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan ini harus memperhatikan tingkat kepuasan kerja sekaligus prestasi kerja karyawannya. Tingkat kepuasan kerja tidak terlepas dari pengaruh kondisi iklim organisasi yang berlaku. Demikian pula halnya dengan prestasi kerja, masyarakat akan menunjukkan tingkat penerimaan dan pemahaman yang tinggi ketika perusahaan dapat menunjukkan kinerja yang lebih baik dan berkualitas. Kondisi yang diharapkan adalah keselarasan antara keadaan yang ada dengan harapan-harapan karyawan, dimana kepuasan atas dasar persepsi mereka terhadap iklim organsasi menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan.
Kesimpulannya, secara teoritis terdapat pengaruh antara iklim organisasi terhadap komitmen, kepuasan kerja, dan prestasi kerja pegawai. Oleh karena ttu akan sangat berguna jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan bukti-bukti empiris mengenai hubungan iklim organisasi dengan komitmen, kepuasan, dan prestasi kerja pegawai, apakah akan mengalami penurunan kuantitas maupun kualitas hasil kerja yang berkaitan dengan kinerja karyawannya. Hal ini berhubungan dengan iklim organisasi, komitmen dan kepuasan kerja.
Dari latar belakang di atas, penelitian ini akan melihat hubungan antara iklim organisasi dengan komitmen, tingkat kepuasan kerja dan prestasi kerja. Oleh karena itu, penelitian mengambil judul Pengaruh lklim Organisasi terhadap Komitmen dan Kepuasan Kerja serta Implikasinya pada Prestasi Kerja (Studi pada PT. PLN (Persero) UP  Dinoyo Malang).  
Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger