PENGARUH PERILAKU PEMIMPIN DAN KOMITMEN PEMIMPIN TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI (332)

 

Sebagai seorang pemimpin, usaha untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan tidaklah mudah. Ia harus mengelola dan menggunakan kemampuan yang dimiliki. Setiap orang yang dilahirkan memiliki kemampuan yang berbeda‑beda, tetapi pada dasarnya mereka memiliki tiga basic kemampuan yang sama yaitu Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan spiritual pemimpin. Perbedaan pengelolaan tiga basic inilah yang akhirnya membuat seseorang berbeda dalam berpikir dan berperilaku atau melakukan tindakan. Perbedaan pengelolaan ini pula yang dapat membuat pemimpin berbeda-beda dalam menetapkan prestasi kerja pegawai mereka.

Banyak tokoh yang memberikan deskripsi bahwa seorang pemimpin harus memiliki keahlian-keahlian tertentu antara lain adalah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual pemimpin seperti yang disampaikan oleh Patih Gadjah Mada; tokoh yang hidup pada abad 14 ini memberikan 15 sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain Wicaksono Ngnoyo yang berarti memiliki kemampuan menganalisis dan mengambil keputusan dan Sajjawaopasama yang berarti tidak sombong, rendah hati dan manusiawi. Kedua hal ini sudah mewakili kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Menurut Nawawi bahwa pemimpin harus memiliki beberapa hal antara lain: mencintai kebenaran dan hanya takut kepada Allah SWT, dapat dipercaya, bersedia dan mampu mempercayai orang lain dan memiliki kemampuan dalam bidangnya dan berpandangan luas didasari kecerdasan (intelegensi) yang memadai.

Pemahaman tentang esensial perilaku kepemimpinan menjadi semakin krusial, ketika banyak orang menyadari bahwa keberhasilan dari organisasi sangatlah tergantung pada pemimpin dan Perilaku Kepemimpinan yang dimilikinya. Paradigma-paradigma yang membentuk dan memperkokoh “dimensi Perilaku Kepemimpinan” terus berubah dan berkembang. Semakin dimensi Perilaku Kepemimpinan itu diposisikan dalam era pluralitas akibat arus globalisasi dan modernisasi, maka arti dan nilai dari Perilaku Kepemimpinan akan semakin hakiki dan menjadi fokus perhatian.

Pemimpin dan  Perilaku Kepemimpinan yang mampu memandang dan mengantisipasi, menyelesaikan sebuah problematik bahkan menang atas pertarungan, itulah yang dibutuhkan. Hanya organisasi yang mampu melakukan perbaikan terus-menerus (continous improvement) yang mampu untuk berkembang. Sebaliknya organisasi yang merasa puas dengan dirinya dan mempertahankan status quo akan tenggelam dan selanjutnya tinggal menunggu saat-saat kematiannya.

Locke (1997) melukiskan Perilaku Kepemimpinan sebagai suatu proses membujuk (including) orang-orang lain menuju sasaran bersama. Nilai yang terkandung dalam sebuah definisi Perilaku Kepemimpinan menandakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menyakinkan bawahan akan visinya dan juga meyakinkan bahwa mereka mempunyai andil untuk mengimplementasikan visi itu serta menggerakkan dan mempengaruhi bawahan untuk melaksanakan pekerjaan dalam mencapai tujuan bersama.

Tidak sebatas pada sebuah interaksi pemimpin dan bawahan saja, pemimpin juga harus menyadari bahwa usaha yang dilakukan oleh seorang pegawai melalui organisasi, pada dasarnya tertuju pada pemenuhan kebutuhan hidupnya sebagai manusia, (Nawawi, 2000). Dengan kata lain, kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya merupakan persyaratan penting dalam menempatkan pegawai pada kedudukan sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia.

Pemimpin yang mengakui dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia akan diliputi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, yang menyadari sungguh-sungguh bahwa kebutuhan pegawainya tidak terbatas pada kebutuhan yang bersifat kebendaan, betapapun pentingnya kebutuhan itu, tetapi lebih dari itu terdapat juga kebutuhan yang bersifat politik, sosial budaya, kebutuhan prestise dan kebutuhan untuk memperoleh kesempatan mengembangkan potensi terpendam yang terdapat dalam dirinya. (Siagiaan S, 1995)

Analisis Pearce et al, (2002) menyebutkan lima strategi perilaku pemimpin (aversif, direktif, transaksional, transformasional dan pemberdayaan pegawai), yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin untuk mencapai efektifitas organisasi.

Nilai yang terkandung dari masing-masing  Perilaku Kepemimpinan ini berbeda satu dengan lainnya, meskipun pada dasarnya setiap  Perilaku Kepemimpinan merupakan perilaku yang dimiliki pemimpin dalam hubungan dengan bawahan, termasuk di dalamnya pemimpin berlandaskan dirinya pada tujuan organisasi serta visi dan misi dari organisasi.

Setiap organisasi baik itu organisasi yang bersifat profit oriented maupun yang non profit oriented tidak terlepas dari adanya kegiatan  prestasi kerja pegawai. Kegiatan  prestasi kerja pegawai ini dapat mengantar sebuah organisasi untuk mencapai target yang diharapkan, karena itu keberhasilan suatu organisasi juga tidak lepas dari seorang pemimpin. Dalam sebuah organisasi besar ada banyak pemimpin yang terlibat untuk kemajuan organisasi tersebut. Masing-masing pemimpin tersebut memiliki prestasi kerja pegawai sendiri-sendiri dan berbeda-beda antara pemimpin yang satu dengan yang lain.

 Prestasi kerja pegawai merupakan kegiatan orang lain menuju pada pencapaian sasaran, sehingga seorang pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain dengan berhasil agar berusaha mencapai sasaran. Pemimpin yang efektif dapat memperoleh kerjasama lewat kompetensi, pendekatan pribadi dan manajemen dalam menangani orang. Pemimpin dapat sangat mahir dalam pengertian menyelesaikan sesuatu pekerjaan atau pengertian hubungan dengan orang. Pada dasarnya efektivitas tergantung pada berbagai gaya dalam situasi apapun serta derajat  prestasi kerja pegawai yang dijalankan. Efektivitas  prestasi kerja pegawai seseorang dapat bergantung dari hubungan antara pemimpin kepada bawahan dan pekerjaan yang diselesaikan.

Nampak jelas bahwa keahlian-keahlian sang pemimpin sesuai dengan peranannya, yang berpusat pada manusia. Timpe ( 1993) dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan menyatakan bahwa deskripsi pekerjaan pemimpin juga merefleksikan pendekatan  prestasi kerja pegawai yang berorientasi pada proses. Kompetensi paling penting yang harus dimiliki oleh pemimpin yang menginginkan perubahan yang baik adalah mengerti tentang sifat alamiah manusia dan berbagai kebutuhan mereka di tempat kerja. Di samping itu pemimpin juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi, melatih, membimbing, membina, memotivasi, dan menggambarkan visi dan nilai-nilai organisasi dalam perilaku pribadinya. Tetapi keberhasilan pemimpin lebih diekspresikan pada bagaimana dia bisa memenuhi tanggung jawabnya untuk memberikan dorongan semangat pada timnya atau bawahannya agar meraih standar-standar kualitatif dan kuantitatif, bukan menekankan tanggung jawab dalam memenuhi tanggung jawab untuk meraih tujuan pribadi. Dengan kata lain bahwa pemimpin yang menginginkan perubahan yang baik adalah memfokuskan perhatiannya pertama pada manusia baru kemudian pada hasil-hasilnya, dengan daya  prestasi kerja pegawai yang dirasa sesuai.

Menurut Terry (Winardi,2000:50); Kepemimpinan merupakan suatu hubungan di mana satu orang mempengaruhi orang lain agar mau bekerja kearah pencapaian sasaran tertentu. Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin bukanlah hubungan satu arah tetapi senantiasa harus terdapat adanya interaksi . Gaya kepemimpinan memainkan peranan penting dalam membantu kelompok organisasi dimanapun mereka berada. Sifat-sifat yang tampak dengan prilaku pribadi seorang pemimpin juga memainkan posisi sangat strategis. Gaya kepemimpinan (leadership style) , secara langsung maupun tidak berimplikasi terhadap bawahan. Pertama adanya kesediaan menerima petunjuk/pengarahan dari pemimpin, menentukan proses kepemimpinan sehingga system dapat berjalan dengan baik. Kedua kepemimpinan menyangkut pembagian kekuasaan antara pemimpin dan angggotanya. Ketiga strategi pemimpin memberikan pengarahan kepada bawahannya, dengan menciptakan pengaruh, meyakinkan, sugesti/ hipnotis, ancaman, interogasi, penangkapan, tekanan fisik dan pembatasan kebebasan.

Kepemimpinan yang efektif tergantung dari landasan manajerial yang kokoh . Menurut Timpe (Umar,2000:31) terdapat lima landasan kepemimpinan yang kokoh yaitu : cara berkomunikasi, pemberian motivasi, kemampuan memimpin, pengambilan keputusan, dan kekuasaan yang positif. Seorang pemimpin yang baik harus dapat mempengaruhi kelompoknya, sebagai tanda bahwa pemimpin tersebut dapat menjalankan tugasnya . Pemimpin organisasi  masa depan  harus memiliki pandangan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan  secar professional maupun secara pribadi dan kekuasaan untuk  bertahan menghadapi kemunduran bahkan kegagalan. Pemimpin harus melihat ke depan dan mengetahui ke mana roda organisasi akan dijalankan.

Seorang pemimpin sebaiknya mampu menjadi teladan yang dapat memberikan motivasi bagi para pengikutnya untuk bekerja sebaik-baiknya secara bertanggungjawab, di samping perlu memiliki visi yang jelas, wawasan etis yang tinggi dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada para pengikutnya. Pemimpin juga harus mampu membangun kepercayaan pengikutnya, karena “kepercayaan adalah perekat emosional antara pengikut dan pemimpin menjadi satu “ (Bennis dan Nanus dalam Kirana, 1997:64). Menurut Bennis (1994 : 198-199) ada empat unsure yang dapat digunakan oleh para pemimpin bisnis untuk membangkitkan dan mempertahankan kepercayaan yaitu : keteguhan,kesesuaian, keandalan dan integritas. Pemimpin menghormati komitmen yang dibuat dan bila factor-faktor ini dimilikinya maka karyawan akan berpihak kepadanya dan membuat para pengikutnya setia. Hubungan manusiawi yang menekankan suatu lingkungan yang menyenangkan untuk bekerja, karena kondisi kerja yang bagus, nyaman, simpatik dan memotivasi untuk bekerja giat, berpengaruh tehadap peningkatan kinerja karyawan serta penghargaan yang layak dan dapat diterima oleh semua pihak yang ada di lingkungan kerja tersebut, pada akhirnya mempengaruhi kepuasan kerja. Proses memberikan motivasi  kepada bawahan sangat bergantung pada gaya kepemimpinan yang kondusif sesuai dengan lingkungan kerja yang menyenangkan.

Pada dasarnya kepemimpinan itu berkaitan dengan proses  mempengaruhi orang lain sehingga orang tersebut dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Perilaku seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan organisasi dilandasi oleh gaya kepemimpinan yang dimainkan atau diperankannya. Kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari Manajemen Sumberdaya Manusia, oleh karena itu merupakan salah satu fungsi manajemen dimana seorang pemimpin mengarahkan, dan mempengaruhi bawahannya atau orang lain untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Pada umumnya para ahli berpendapat bahwa kepemimpinan  (leadership) merupakan pokok atau   inti dari pada manajemen. Kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan kemampuan motivasi, komunikasi dan hubungan antar manusia.  Seorang pemimpin harus memotivasi dirinya sendiri dan orang lain agar mau bekerja satu sama lain memberikan kinerja yang baik  untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pemimpin yang mampu berkomunikasi dan mampu berhubungan manusiawi dengan orang lain (human relations) dengan baik akan lebih mudah mempengaruhi dan menggerakkan orang lain sesuai dengan keinginannya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.  Sehingga peranan yang dimainkan disadari atau tidak akan membawa dampak bagi lingkungannya.  Tanpa kepemimpinan yang baik, sulit bagi seorang manajer atau pemimpin untuk menjalankan fungsi manajemen dengan semestinya. Perencanaan yang baik, organisasi yang memadai, anggaran yang besar, sarana dan prasarana yang lengkap belum menjamin akan diperoleh hasil kegiatan (output) yang diinginkan.

 Dengan fenomena perobahan yang begitu pesat di era globalisasi yang sekarang sedang kita hadapi, merupakan salah satu faktor pendorong agar setiap institusi atau organisasi termasuk organisasi pemerintahan untuk dapat memiliki keandalan atau keunggulan di berbagai segi, baik sumberdaya manusia maupun infrastruktur pendukung lainnya. Oleh karena itu pemimpin sebagai motor atau penggerak kebijaksanaan di lembaganya, memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan visi dan misi yang berdimensi terciptanya keunggulan atau mutu SDM yang baik yang dihasilkan oleh adanya kinerja atau system hubungan interpersonal dan antarpersonal yang baik, baik dari pimpinan terhadap staf, antar staf maupun antara pimpinan dan staf yang mempunyai sifat interdependen yang baik dalam kaitannya dengan tugas. 

Dengan adanya kinerja yang baik dari seluruh sumberdaya yang ada baik pimpinan maupun pegawai diharapkan visi dan misi tersebut akan tercapai.  Dengan konsep kemandirian yang terpimpin merupakan inspirasi bagi lembaga untuk mengetahui strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang) dan threats (ancaman) bagi dirinya sendiri dibandingkan dengan lembaga-lembaga lainnya, sehingga mampu memanej secara optimal sumberdaya yang ada. Porter (1990) memberikan  empat atribut keunggulan, sebagai the diamond of national advantage, yaitu: kondisi faktor di dalamnya, yang menyangkut skill dan infrastrukturnya, kondisi domestic demand  lembaga, adanya supporting institution untuk berkembang dan maju, yang menunjang berkembangnya institusi yang berkompeten, kondisi persaingan (rivalry) domestik dan strategi yang akomodatif. Keempat kondisi tersebut menjadi parameter kondisi yang kondusif bagi suatu institusi untuk maju sesuai manajemen mutu berbasis masyarakat tersebut.

Dikatakan oleh Mintzberg (dalam Locke, 1997: 20) bahwa untuk bekerja dengan baik, seorang pemimpin harus terus menerus bekerja demi sukses dan perbaikan. Secara umum para pemimpin dan manajer melakukan sejumlah pekerjaan dengan amat tekun. Lebih lanjut oleh Boyatzis (dalam Locke, 1997: 20) didapati bahwa para manajer dan eksekutif unggul mempunyai orientasi efisiensi yang lebih dibandingkan eksekutif kebanyakan, selalu ingin melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik daripada yang dilakukan orang lain.

Kepemimpinan (leadership) selalu terkait dengan kekuasaan (power), dimana kekuasaan merupakan sarana alat untuk mempengaruhi orang lain. Proses mempengaruhi orang lain guna mencapai suatu tujuan dikenal sebagai kepemimpinan. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain disebut pemimpin. Dalam rangka mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan organisasi, maka seorang pemimpin perlu memiliki kekuasaan dan bisa menggunakannya dengan efektif.

Dari pertimbangan-pertimbangan yang telah diilustrasikan kiranya tidak terlalu berlebihan bisa peneliti berkeinginan untuk melakukan studi tentang Pengaruh perilaku pemimpin dan komitmen pemimpin  Terhadap Kinerja Pegawai Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar.


Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger