PENGARUH KETERLIBATAN KERJA, KEPUASAN KERJA DAN IKLIM ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI (328)

 

Dalam setiap organisasi baik itu yang bertujuan profit ataupun non profit, sumber daya manusia merupakan sumber daya yang berperan dalam mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia merupakan indikator organisasi dalam mencapai tujuannya. Untuk itu dalam organisasi dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai profesionalisme dibidangnya.

Sejalan dengan perkembangan organisasi maka usaha­-usaha untuk peningkatan ketrampilan maupun profesionalisme karyawan di masa mendatang sangat diperlukan. Untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi maka diperlukan adanya kegiatan pelatihan, guna meningkatkan ketrampilan dan profesionalisme yang dimiliki karyawan yang pada akhirnya diharapkan dapat mengembangkan karier karyawan. Untuk itu sebaiknya kegiatan pelatihan diadakan secara sistematis, terencana dan terus menerus. Hal ini perlu dilakukan karena adanya kondisi lingkungan organisasi yang terus berubah seiring dengan perubahan permintaan masyarakat. Sedangkan permintaan masyarakat terus-menerus berubah karena adanya sistem informasi yang juga terus menerus berubah-ubah, teknologi juga terus berubah ditambah lagi dengan era globalisasi yang semakin kompleks. Untuk menghadapi semua ini maka sumber daya manusia dituntut benar-benar cakap dan siap menghadapi tantangan dalam menghadapi masalah yang timbul dalam bidang tugasnya masing-masing.

Organisasi harus melakukan perbaikan secara terus menerus agar dapat berkembang dan mempertahankan eksistensinya didalam menghadapi persaingan dengan organisasi lain. Untuk mencapai tingkat keunggulan bersaing yang tinggi dan berkesinambungan, sebuah organisasi tidak lagi semata-mata tergantung pada kemajuan tehnologi yang dipergunakan ataupun posisi strategisnya, akan tetapi lebih menekankan pada pengelolaan tenaga kerja atau sumberdaya manusia yang ada (Pfeffer, 1995). Oleh karena itu organisasi harus mampu mengembangkan sumberdaya manusia yang dimilikinya untuk dapat bersaing dan menjadi yang terbaik dilingkungannya.

Untuk menciptakan dan mewujudkan kematangan sumber daya yang dimiliki organisasi, terutama untuk mencapai tingkat keunggulan bersaing yang tinggi dan berkesinambungan, sebuah organisasi harus memiliki iklim organisasi yang baik dan kuat. Menurut Gibson (1996), iklim organisasi merupakan serangkaian sifat lingkungan kerja, yang dijalani dan dinilai langsung maupun tidak langsung oleh karyawan, yang dianggap menjadi kekuatan utama dalam mernpengaruhi perilaku individu. lklim organisasi, mempunyai fungsi mempengaruhi tindakan karyawan sebagai individu yang mandiri atau bagian dari sebuah interaksi kelompok maupun sebagai bagian kolektif dari organisasi. Singkatnya, bahwa adanya iklim organisasi yang baik dan kondusif akan mempengaruhi proses arus komunikasi efektif yang terjadi antar anggota organisasi, produktivitas, prestasi kerja, dan kepuasan kerja karyawan.

Davis (1985), menyatakan bahwa iklim organisasi adalah lingkungan manusia dimana para karyawan organisasi melakukan pekerjaan mereka. Pengertian ini mengacu pada lingkungan suatu departemen, unit organisasi yang penting atau suatu organisasi secara keseluruhan. Pada gilirannya, iklim organisasi dipengaruhi dan/atau mempengaruhi hampir semua hal yang terjadi dalam organisasi. Iklim adalah merupakan suatu konsep sistem yang dinamis.

Organisasi yang memperlakukan karyawannya sesuai dengan martabat dan integritasnya, akan menghasilkan peningkatan moral, kinerja dan produktivitas, serta menekan tingkat pergantian pekerja, meningkatkan kepuasan, dan meningkatkan reputasi dan kredibilitas organisasi secara menyeluruh. Menurut Lewis, Goodman, dan Fandt (2001), karyawan yang bekerja dalam sebuah organisasi yang menganut nilai-nilai etis dan iklim organisasi yang baik, akan merasakan keuntungan ganda karena mereka tahu bahwa mereka akan dilindungi baik secara organisatoris, maupun dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, sebagian besar karyawan akan menyatakan perasaan tidak nyaman ketika mereka bekerja dalam sebuah organisasi yang menunjukkan iklim yang tidak kondusif.

Purnomosidhi (1996) menyatakan bahwa iklim organisasi yang tidak menunjang penampilan kerja yang produktif, penyediaan teknologi dan kondisi kerja yang tidak memadai, arus komunikasi yang tidak menunjang dalam artian jumlah maupun kualitas, praktek pengambilan keputusan yang tidak obyektif di semua organisasi maupun kesejahteraan karyawan yang kurang diperhatikan di sisi lain, akan mengakibatkan rendahnya tingkat kepuasan dan prestasi kerja.

Satu hal yang sangat mendasar bahwa untuk membangun komitmen, baik pada tataran individu maupun pada tataran organisasional secara menyeluruh, tidak terlepas dari kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang baik dan menunjang. Gejala yang seringkali muncul dalam sebuah organisasi baik bisnis maupun publik sebagai akibat dari kurang stabilnya organisasi adalah rendahnya tingkat kepuasan kerja dan prestasi kerja yang dicapai oleh pegawai. Akibat  paling ekstrim yang dapat ditimbulkan oleh ketiga hal di atas adalah terjadinya pemogokan, kelambanan, kemangkiran, dan tingkat keluarnya karyawan yang cukup tinggi.

Davis (1996) menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja yang tinggi dari pegawai merupakan tanda bahwa organisasi telah dikelola dengan baik, dan merupakan hasil dari manajemen perilaku yang efektif. Kepuasan dan prestasi kerja adalah sebuah tolak ukur terhadap suatu proses pembangunan dan pengembangan iklim yang berkelanjutan dalam organisasi.

Tingkat kepuasan kerja juga dianggap sangat penting sebagai sebuah proses pencapaian aktualisasi Diyakini bahwa pegawai yang tidak dapat memperoleh kepuasan kerja, tidak akan mencapai kematangan psikologis yang pada gilirannya akan menyebabkan stres, serta berimplikasi pada pencapaian kinerja yang tidak rnaksimal. Strauss dan Sayless (1996) menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja mempunyai arti yang sangat penting baik bagi pegawai maupun bagi organisasi, terutama karena hal ini dapat menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja serta pencapaian prestasi kerja yang lebih baik.

Salah satu upaya dalam meningkatkan kepuasan kerja pegawai adalah dengan menciptakan lingkungan kerja atau iklim organisasi yang kondusif dan menguntungkan. Perilaku pemimpin dalam hal ini sangat menentukan terciptanya keadaan tersebut, dimana keberadaan iklim pada kebanyakan organisasi dibentuk oleh kepemimpinan yang tepat dan dkomunikasikan juga secara tepat dengan para bawahan secara keseluruhan.

Kepuasan kerja dan prestasi kerja adalah merupakan variabel organisasi yang sangat penting untuk terus diteliti dan dipelajari, karena terkait erat dengan berbagai proses penting dalam aktivitas keorganisasian diantaranya motivasi, komitmen, dan pergantian pegawai (Kohn dan Boo, 2001). Seseorang secara individual dapat mencapai tingkat kepuasan kerja dan kinerja yang baik dalam kondisi tertentu, akan tetapi pada kondisi lain dia tidak dapat mencapainya. Hal yang   penting untuk dipelajari adalah apakah eksekutif atau pejabat di Indonesia dapat mencapai level tertentu dari kepuasan kerja serta kinerja yang maksimal dalam organisasi mereka.

Kenyataan ini dianggap berlaku universal baik pada organisasi bisnis maupun pada organisasi publik. Pada organisasi bisnis, dalam operasionalnya dituntut untuk mampu menciptakan kondisi iklim yang kondusif baik secara organisatoris maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Sebagai perusahaan yang independen harus mampu bekerja secara mandiri tanpa intervensi dari pihak manapun. Maka dengan iklim organisasi yang baik dan kondusif, hal ini memungkinkan untuk dicapai, dan selanjutnya akan berimplikasi pada tercapainya tingkat kepuasan kerja dan kinerja aparat secara maksimal serta tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh.

Dalam kehidupan manusia, pekerjaan mempunyai peran penting, baik menyangkut kehidupan fisik maupun psikologisnya.Pentingnya pekerjaan bagi karyawan akan menentukan tingkat ketertarikan karyawan  untuk mau memberikan seluruh kapasitasnya demi terlaksananya pekerjaan atau tugas yang telah diberikan. Ketika karyawan akan menganggap bahwa pekerjaan atau tugas tersebut penting maka akan semakin rela karyawan  untuk memberikan waktu, tenaga dan pikirannya demi pekerjaan itu. Dengan demikian pekerjaan akan ditempatkan sebagai bagian penting dari diri karyawan, dan hal ini menggambarkan adanya keterlibatan secara penuh karyawan terhadap pekerjaan atau tugasnya.

Dengan adanya keterlibatan secara penuh terhadap pekerjaan maka karyawan akan menciptakan kinerja yang baik dan akan berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugasnya karena hal ini dianggap penting sehingga karyawan akan lebih merasa puas dan senang jika bisa menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran untuk pekerjaannya. Hal ini senada  dengan pendapat Vroom (Ernawaty, 1996: 249) yang menyatakan bahwa individu yang terlibat dalam pekerjaan adalah individu yang selalu memikirkan pekerjaannya, membuka kesempatan untuk mengekspresikan diri yang berhubungan dengan kepuasan kerja.

Untuk mencapai hasil kerja yang nyata dalam bekerja maka tergantung dari cara karyawan memandang pekerjaannya. Kualitas perasaan terhadap pekerjaan akan berkaitan dengan kepuasan kerja yang dirasakan karyawan. Kepuasan  kerja secara umum menyangkut sikap individu mengenai pekerjaannya yang mencerminkan pengalaman baik yang bersifat menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Menurut  Doelhadi ( 1995 : 34 ) bahwa keterlibatan kerja di pengaruhi oleh kepuasan kerja, dimana kepuasan kerja adalah  keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan karyawan dalam memandang pekerjannya. Selain itu menurut Herzberg ( dalam Wexley & Yulk, 2003 : 136 ) bahwa kepuasan kerja itu di pengaruhi oleh pekerjaan itu sendiri, dimana menunjukkan apakah suatu pekerjaan itu rutin, membutuhkan inisiatif atau membutuhkan kreativitas. Dengan adanya tuntutan inisiatif dan kreativitas dalam melaksanakan pekerjaan, maka secara tidak langsung karyawan harus bisa meluangkan sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran untuk pekerjaannya karena hal ini merupakan salah satu bagian penting bagi diri individu sehingga keinginan atau harapan dari para karyawan terpenuhi. Setiap karyawan mempunyai keinginan untuk dapat mencapai hasil kerja yang maksimal sesuai dengan harapan individu.  Harapan inilah yang nantinya akan mempengaruhi tinggi rendahnya keterlibatan kerja individu dalam melakukan tugasnya.

Dengan demikian kepuasan kerja sangat erat kaitannya dengan keterlibatan kerja, karena hal ini akan berdampak pada keadaan psikologis karyawan, dimana  kepuasan kerja yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan kerja sehingga orientasinya lebih kearah peningkatan makna hidup hal ini dikarenakan karyawan akan memandang  pekerjaan adalah hal terpenting bagi hidupnya. Hal tersebut didukung oleh Rabinowitz & Hall (Doelhadi, 1995 : 29) yang telah menemukan hubungan positif antara kepuasan kerja dengan keterlibatan kerja.

 Apabila keterlibatan kerja, kepuasan kerja dan lklirn organisasi mampu menyentuh hal yang mendasar dalam mengarahkan perilaku dan mengoptimalkan kemampuan pegawai secara terus-menerus sesuai tujuan, maka kelangsungan hidup lembaga akan bertahan lama. Dari penelitian para ahli terdahulu menunjukkan, bahwa ada pengaruh antara keterlibatan kerja, kepuasan kerja dan lklim organisasi terhadap kinerja pegawai. Menumbuhkan kinerja pegawai hal yang menarik untuk diteliti, yaitu adanya rasa kebanggan, kemauan dan loyalitas yang tinggi dari pegawai karena merasa dilibatkan dalam pekerjaan, adanya kepuasan kerja tersendiri yang dirasakan dan iklim organisasi yang kondusif. Berkenaan dengan penjelasan di atas maka penulis ingin mengkaji mengenal : PENGARUH KETERLIBATAN KERJA, KEPUASAN KERJA DAN IKLIM ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI (Studi pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Blitar).

Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger