PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI DI ... (376)

Hampir setiap organisasi bisnis menyatakan bahwa “manusia adalah aset terpenting bisnis kami”. Secara eksplisit hal itu menghargai mereka, namun dalam kenyataannya seringkali bertentangan dengan realita yang ada. Misalnya, bagi perusahaan/organisasi yang terlalu banyak menggunakan pola padat modal sebagai pengganti manusia, bisa jadi manusia hanya dipandang sebagai unsur produksi yang tidak ada bedanya dengan unsur lainnya, hal ini tentunya kurang manusiawi. Di sisi lain, masih banyak terdapat perusahaan/organisasi yang menerapkan sistem upah, iklim kerja, dan kepemimpinan yang kurang kondusif. Namun terlepas dari hal-hal tersebut, secara umum manusia dan potensinya merupakan elemen utama dari keberhasilan suatu bisnis. Tinggal lagi bagaimana somber daya manusia berupa tingkat etos kerja, pendidikan, keterampilan, pengetahuan, emosi, kejujuran, kesehatan, pengalaman, dan kepemimpinan dapat dioptimalisasikan (Gunawan, 2002).

Suatu perusahaan/organisasi didalam mencapai tujuan tentunya menghadapi adanya kendala, apakah itu tujuan untuk mencapai laba, memenangkan persaingan, ataupun memenuhi kepuasan pelanggan. Namun permasalahan dalam pencapaian tujuan tersebut tidaklah sesederhana yang dipikirkan pihak manajemen. Kendala-kendala utama yang timbul terutama dapat berasal dari para pegawai sebagai anggota organisasi, seperti perilaku individunya, rendahnya kepuasan kerja serta komitmen pegawai untuk tetap bekerja dalam jangka waktu yang sudah ditentukan perusahaan/organisasi (Armansyah, 2002).

Individu sebagai salah satu hal yang menentukan keberhasilan organisasi tentunya memiliki latar belakang yang berbeda diantaranya adalah pengalaman kerja dan kebutuhan yang pada akhirnya memberikan ciri-ciri tertentu pada masing-masing individu.

Thoha dalam Setyowati (1997) berpendapat bahwa individu membawa dirinya ke dalam tatanan organisasi, kemampuan, kepercayaan pribadi, penghargaan kebutuhan, dan pengalaman masa lalunya. Ini semua adalah karakteristik yang dimiliki individu dan karakteristik ini akan memasuki suatu lingkungan baru, yakni organisasi atau lainnya. Sejalan dengan hal itu Robbins dalam Sutrisno (1997) mengungkapkan bahwa karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin, status perkawinan, banyaknya tanggungan dan masa kerja. Selain karakteristik individu, hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah kepuasan kerja dan komitmen pegawai terhadap organisasi.

Berdasar beberapa penelitian dalam Sumberdaya Manusia, karakteristik individu mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja, meskipun terkadang pengaruh tersebut bersifat positif maupun negatif (Green,2000). Disisi lain, karakteristik individu ini ternyata dapat pula digunakan untuk memberikan penjelasan atas perbedaan komitmen yang ditunjukkan oleh responder serta perbedaan tingkat turnover. Hal serupa juga dinyatakan dalam penelitian Hawkins (1998) bahwa Usia, jenis kelamin, masa kerja, perceived fairness, dan perceived organizational support terkait dengan komitmen afektif. Sedangkan status perkawinan, berdasar hipotesis Sager (1991) dalam Pribadi (1998) menyatakan ada hubungan positif antara status perkawinan dengan komitmen organisasi.

Kepuasan kerja merupakan pandangan yang lebih dikhususkan pada pekerjaan itu sendiri maupun aspek-aspek pekerjaan. Sebagaimana dinyatakan dalam Robbins (1996) bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum pegawai terhadap pekerjaannya.

Tuntutan adanya kepuasan kerja semakin meningkat seiring dengan persaingan antara organisasi bisnis. Organisasi yang tidak mampu memberikan kepuasan kerja pada pegawainya, akan menghadapi resiko penurunan produktivitas kerja, tingginya tingkat Turnover (Luthans, 2001). Keadaan ini dinyatakan pula oleh Feinstein (2000), bahwa pegawai yang merasa puas, ternyata lebih bersikap komit terhadap organisasi, memiliki sikap yang menyenangkan terhadap pekerjaan dan organisasinya, dan lebih kecil kemungkinan untuk meninggalkan organisasinya dari pada pegawai yang tidak puas.

Berbeda dengan kepuasan kerja yang merupakan pandangan pegawai terhadap pekerjaan secara khusus, komitmen organisasi secara umum dipahami sebagai suatu ikatan kejiwaan individu terhadap organisasi termasuk keterlibatan kerja, kesetiaan dan perasaan percaya terhadap nilai-nilai organisasi. Banyak hal yang mendorong terciptanya komitmen organisasi, diantaranya kepuasan kerja yang diperoleh di dalam organisasi. Kepuasan akan pembayaran yang diberikan perusahaan/organisasi, kepuasan kondisi kerja apakah secara mental pekerjaan yang dihadapi menantang atau tidak, sikap atasan dan pengawasan yang ada, hubungan dengan sesame rekan kerja, merupakan faktor-faktor penentu komitmen organisasi.

Di dalam menjalankan perusahaan/organisasi, tentunya pihak manajemen perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo berupaya untuk meningkatkan kepuasan kerja pegawainya secara optimal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan para pegawainya. Jika kondisi kerja yang dihadapi pegawai tidak sebanding dengan pengharapan mereka terhadap perusahaan/organisasi, tentunya akan timbul ketidakpuasan dan pada akhirnya akan berpengaruh pada tingkat komitmen.

Berdasar uraian di atas, bagaimana menumbuhkan komitmen pegawai merupakan hal yang menarik jika ditinjau dari segi karakteristik individu dan kepuasan kerja yang dirasakan oleh para pegawai khususnya di Garasi Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo sebagai obyek penelitian ini. Suatu perusahaan/organisasi bisnis akan lebih mudah mencapai sasaran dan tujuannya jika pegawai mempunyai komitmen terhadap perusahaan/organisasi. Komitmen akan meningkat seiring dengan meningkatnya kepuasan kerja pegawai. Kondisi ini akan dapat terwujud, apabila perusahaan/organisasi berupaya meminimalkan kemungkinan terjadinya resiko akibat adanya ketidakpuasan kerja serta mengelola aspek­aspek kerja sebaik mungkin.

 

Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger