PENGARUH FAKTOR INDIVIDU DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PERILAKU KERJA DAMPAKNYA PADA KINERJA PEGAWAI (368)

 

Suatu organisasi dalam mewujudkan tujuannya memerlukan sumber daya manusia (SDM) karena tumbuh-kembangnya suatu organisasi tergantung dari SDM-nya. Oleh karenanya, SDM harus diperhatikan dengan baik agar terjadi peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja. Peningkatan ini yang tercermin pada kinerja semua pihak, khususnya para anggota penanggung jawab bidang fungsional, baik yang masuk kategori tugas pokok maupun tugas penunjang, serta pimpinan penyelenggara kegiatan operasional yang dibantu pegawai teknis, operasi dan administratif (Dwiyanto 1995).

Semakin maju dan modernnya dunia usaha/bisnis, mengharuskan Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo memiliki kemampuan untuk mencermati serta mengikuti perkembangan tersebut secara berkesinambungan. Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu dimensi utama dalam organisasi (Schemerhorn, 1998) dan pemeran central pendayagunaan sumber-sumber yang lain (Sujak, 1990). Dan SDM merupakan salah satu faktor kunci untuk membangun suatu keunggulan kompetitif yang berkesinambungan (Gress & Pfeffer, 1995). Ini berarti, bagaimanapun baiknya organisasi, lengkap sarana dan prasarana kerjanya, semua tidak mempunyai arti tanpa adanya aktivitas manusia yang menyatu, menggunakan dan memeliharanya.

Mengingat arti pentingnya manusia dalam organisasi, maka seorang pimpinan perlu kiranya mempelajari dan memahami perilaku bawahannya dan mendorongnya demi pencapaian tujuan organisasi secara efektif (Nimran, 1996). Manajer bertugas menyelesaikan urusan-urusan lewat orang lain (Robbin, 1996) dengan tugas utama bertanggung jawab atas pencapaian tujuan organisasi kemudian melakukan evaluasi kinerja, serta membantu bawahannya agar lebih efektif dalam menjalankan tugasnya (Beer dan Ruh, 1991).

Keefektifan suatu organisasi, dalam rangka mencapai tujuan, akan sangat dipengaruhi oleh kualitas anggota organisasi (Fieldmen & Arnold 1985), khususnya perilaku para anggota organisasi tersebut. Dengan kata lain, kinerja organisasi tergantung oleh kinerja individu (Gibson et al, 1996).

Para pengelola suatu organisasi/kantor, terutama para manajer, sangatlah penting sekali mengetahui perilaku individu atau pegawai sebagai anggota di dalam organisasinya, agar ia lebih mudah menggerakkan atau memotivasi mereka untuk bekerja mencapai prestasi atau kinerja yang tinggi (Mohyi, 1999).

Melalui pengenalan dan pemahaman terhadap perilaku kerja pegawai diharapkan akan bisa meramalkan, menjelaskan dan mengendalikan perilaku pegawai ke arah yang dikehendaki (Gibson el al., 1996). Pemahaman ini penting karena kekuatan sumber daya manusia dibentuk dari sifat dan karakter yang berbeda dari masing-masing individu, yang dapat dituangkan dalam bentuk pandangan untuk mencapai tujuan perusahaan (Djojonegoro, 1997). Perbedaan ini terlihat antara seorang individu dengan individu lainnya, termasuk kemampuan dalam memecahkan masalah atau bagaimana mereka dapat menyesuaikan diri dengan perubahan.

Menurut Lewin (dalam Lau 1995), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kerja pegawai bisa berasal dari dalam diri pegawai itu sendiri (faktor individu), dan bisa dari faktor yang ada di luar (budaya organisasi).

Salah satu upaya yang perlu dilakukan guna meningkatkan kinerja organisasi, agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif, efisien, terarah dan terencana, adalah menyiapkan SDM yang profesional serta budaya organisasi yang mendukung (Gress & Pfeffer 1995).

Budaya organisasi bisa dirasakan keberadaannya melalui perilaku anggota/ pegawai di dalam organisasi itu sendiri. Kebudayaan tersebut memberikan pola cara-cara berpikir, merasa, menanggapi dan menuntun para anggota organisasi dalam mengambil keputusan maupun kegiatan-kegiatan lainnya dalam organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi akan berpengaruh pada perilaku individu serta kelompok di dalam organisasi, serta akan berpengaruh pula pada prestasi individu tersebut, dan sekaligus secara bersama­-sama akan berpengaruh pada efektif-tidaknya pencapaian tujuan suatu organisasi (Mohyi, 1999).

Budaya organisasi menjadi sangat berarti bagi kelangsungan hidup organisasi, terutama bila dikaitkan dengan upaya organisasi untuk mengatasi berbagai masalah dalam adaptasi atas berbagai perkembangan dan perubahan eksternal dan integrasi terhadap kekuatan internal (Schein dalam Hatch, 1997).

Sebagai suatu organisasi, keberhasilan Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo sangat tergantung pada beberapa faktor, antara lain faktor individu pegawai dan budaya organisasi kantor. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap perilaku kerja pegawai, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja pemeriksaan (Suherno, 1990:41).

Faktor individu terdiri dari faktor persepsi (penafsiran) pegawai, faktor sikap dan faktor kepribadian (respons) pegawai (Iverson & Roy, 1994). Faktor persepsi berkaitan dengan unsur-unsur prosedur kerja, sarana dan prasarana, serta sistem reward dan penalty yang diterapkan pada kantor atau perusahaan yang bersangkutan. Faktor sikap berkaitan dengan adanya peran dan fungsi, tantangan dan rangsangan, kesempatan, serta sistem kerja secara kelompok. Sedangkan faktor kepribadian terlihat pada respons pegawai jika menghadapi tugas yang diberikan. Faktor budaya organisasi kantor terdiri dari faktor inovasi dan pengambilan resiko (inisiatif), faktor orientasi detail, faktor orientasi orang, faktor orientasi tim, orientasi hasil dan kemantapan (Kotter & Heskett 1997). Faktor perilaku kerja pegawai terdiri dari faktor semangat dan kegairahan kerja, faktor daya inisiatif kerja, faktor keterlibatan kerja serta loyalitas terhadap organisasi (Chori, 1999). Sedangkan kinerja pemeriksaan meliputi ketepatan waktu pemeriksaan, kuantitas, kualitas serta response dan keberatan yang diajukan oleh unsur penilai (Muhammad 1990: 8).

Budaya organisasi dapat membantu kinerja pegawai, karena dapat menciptakan suatu motivasi bagi pegawai untuk memberikan kemampuan terbaiknya dalam memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh organisasi. Barney & Wilson (dalam 1998: 19) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dianut bersama membuat pegawai nyaman bekerja, memiliki komitmen dan kesetiaan, serta membuat pegawai berusaha lebih keras untuk meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja serta mempertahankan keunggulannya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa perilaku kerja pegawai dalam berorganisasi tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini bisa berasal dari diri pribadi pegawai maupun dari faktor luar (Gibson et al., 1996).

Hasil interaksi antara kedua variabel tersebut dalam organisasi tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku kerja pegawai, tetapi juga berpengaruh terhadap kinerjanya (Gibson et al., 1996). Steer (1985) menyatakan apabila interaksi antara individu dan lingkungannya (dalam hal ini budaya organisasi) bisa berjalan dengan baik, maka akan diperoleh dua hasil perilaku kerja yang sama-sama penting. Yang pertama adalah keinginan individu untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi; dan yang kedua adalah adanya keinginan individu untuk berkarya dalam kerja, yang akan memberikan sumbangannya hanya bagi pencapaian tujuan organisasi.

Untuk dapat mewujudkan misi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo, maka diperlukan kinerja yang optimal dari semua unsur yang ada di dalam organisasi, terutama para pegawai yang harus memiliki perilaku kerja yang positif sehingga mampu menghasilkan kinerja yang dapat memberikan kontribusi bagi keberhasilan organisasi kantor.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian adalah kebijaksanaan manajemen sumber daya manusia dalam organisasi. Sebab kinerja organisasi yang baik akan sangat ditentukan perilaku kerja pegawai tersebut dalam organisasi. Demikian juga dengan kinerja pegawai, sangat ditentukan oleh perilaku kerja pegawai tersebut dalam organisasi. Semakin positif perilaku yang ditunjukkan pegawai dalam kerja, semakin meningkat kinerjanya. Sebaliknya, jika perilaku yang ditunjukkan negatif, maka akan menurunkan kinerja organisasi.

Berpijak pada uraian di atas, dirasa perlu dilakukan penelitian dengan menitikberatkan pada Pengaruh Faktor Individu  dan, Budaya Organisasi terhadap Perilaku Kerja dampaknya pada Kinerja Pegawai Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo

Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger