PENGARUH PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KARIR SERTA KOMITMEN KERJA ... (389)

 

Measelee, (1997), menyatakan bahwa perubahan global yang diikuti dengan kemajuan teknologi informatika mengambarkan kondisi perubahan sebagai hasil dari tekanan waktu, dimana dalam proses ini terjadi fluktuatif yang begitu cepat bagi siapa yang bertindak lamban dalam mengantisipasi masa depan. Kedua, diversity yang selalu menciptakan dua kondisi, yakni kesempatan sekaligus kekacauan baik yang berasal dari lingkungan internal maupun dari lingkungan eksternal, yang kekuatannya dapat dioptimalkan dengan menyeimbangkan antara keduanya dengan tanpa mengurangi kekuatan masing-masing melalui proses “saling mengerti” dan “belajar” dan ketiga adalah kompleksitas sebagai hasil dari kedua kondisi diatas (perubahan dan perbedaan), yang harus dihadapi oleh manajemen dengan kemampuan daya prediksi atas gejala yang akan terjadi.

1

 
Untuk itu disarankan melakukan integrasi pasar dan formasi aliansi. Yang menuntut perubahan stockholders dan keberlangsungan pemerintahan. Kondisi ini harus benar-benar disadari dan dipersiapkan secara professional dengan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya manusia. Lucas (1988) menunjukkan bahwa negara industri maju maupun negara industri baru dapat mempertahankan perkembangan ekonominya dalam jangka panjang karena memiliki mutu SDM yang baik. Hubungan positif antara perkembangan ekonomi dan kualitas SDM yang diindikasikan dengan peningkatan produktivitas, efisiensi dan nilai tambah dimana berperan secara signifikan diantaranya  teknologi dikemukakan oleh banyak ahli diantaranya Solow (1975), Romer (1990), Nort (1990 ) dan Crosby (1980).

Mustopadidjaja (1997) lebih lanjut menegaskan bahwa pembangunan SDM merupakan indikator yang secara internasional diakui sebagai indikator keberhasilan pembangunan dan merupakan faktor yang memberikan kontribusi kuat bagi adanya perilaku bertanggung jawab dan berkesinambungan, sekaligus merupakan penentu bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. Strategi dasar dalam hal ini adalah pendidikan, yang akan menghasilkan SDM berkualitas. Strategi dasar pendidikan merupakan jawaban yang tepat dalam menghadapi era “globalisasi”, terlebih dalam kondisi krisis seperti yang terjadi saat ini.

Korea Selatan, Malaysia dan Thailand telah membuktikan hal tersebut, dengan mempersiapkan SDM yang berkualitas, krisis akan dapat diatasi dengan baik (Suandana, 1993). Investasi dibidang SDM, sebagaimana temuan Wheeler dalam (Rindjin, 1992) menunjukkan tingkat keuntungan yang lebih besar dibanding investasi di bidang fisik. Peningkatan kualitas pendidikan sebagai strategi dalam menciptakan kualitas SDM agar siap melakukan pembangunan seperti tertuang dalam Rencana Strategis Nasional, yakni: terwujudnya kehidupan masyarakat yang makin sejahtera lahir batin secara adil dan merata, terselenggaranya pendidikan nasional dan pelayanan kesehatan yang makin bermutu dan merata yang mampu mewujudkan manusia yang beriman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh, Sehat, Cerdas, oatriotik, berdisiplin, kreatif, produktif dan profesional, makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradapan, harkat dan martabat manusia Indonesia dan memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa. Untuk itu pemerintah secara terus menerus berupaya untuk semakin memperbaiki mutu sistem pendidikan nasional agar amanat tersebut dapat terwujud dengan baik.

Kita ketahui bahwa pendidikan formal tidak seluruhnya dapat diandalkan untuk mewujudkan kualitas manusia pembangunan seperti yang diharapkan, tetapi hampir dapat dipastikan bahwa sektor pendidikan formal yang tertata dengan baik dapat memainkan peranan yang signifikan didalam upaya itu. Rasyid (1997) menyatakan bahwa sistem pendidikan yang baik dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu aturan main, seluruh perangkat perundang-undangan yang mengatur tentang keberadaan semua tingkat pendidikan formal. berikut lembaganya, dengan susunan organisasi dan kewenangan yang melekat. Serta pelaku pendidikan, dengan SDM yang bertanggung jawab dibidang pendidikan formal.

Ryaas rasyid menegaskan bahwa pelaku pendidikan, untuk terus dibina agar di dalam diri mereka terbangun komitmen moral dan intelektual untuk secara serius menjaga mutu pendidikan. Dengan komitmen moral yang tinggi tersebut  akan terus berupaya meningkatkan profesionalismenya. Maskun (1997) menegaskan bahwa faktor yang dapat memberikan stimulan kepada profesionalisme intelektual adalah: a. pendidikan tinggi yang baik, b.terdapatnya peluang, c. adanya penghargaan karya, d. terdapatnya pemanfaatan konsepsi dan tidak adanya hambatan dalam bentuk apapun.

Pengelolaan secara profesional mencakup didalamnya pengelolaan SDM  yang merupakan unsur utama dalam membangun kompetensi. Swasto (1996) mengutip dari Sonhaji (1990) menempatkan  SDM yang utama, karena  memiliki kemampuan intelektual, profesional, pribadi dan sosial. Pengelolaan SDM mengandung tugas untuk mendayagunakan SDM yang dimiliki secara optimal, sehingga ia dapat bekerja secara maksimal untuk secara bersama-sama mencapai tujuan.

Robins (1993) menegaskan bahwa seorang pegawai akan bekerja dengan baik apabila dia ditempatkan pada posisi dan jatah yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta apabila dia merasa dapat memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan tersebut. Dengan demikian seorang pegawai harus diperhatikan pula atas pemenuhan kebutuhan kebutuhannya.

Kebutuhan pegawai  tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat material saja, akan tetapi juga non material seperti kepastian karier. Sehingga perencanaan dan pengembangan karier akan mendorong dan membawa seseorang kepada suatu tahap yang relatif lebih tinggi dari yang dimilikinya saat ini, dan demikian selanjutnya. Sistem karir menurut Robins (1993) sangat diperlukan oleh suatu lembaga untuk meningkatkan produktivitas pegawai-pegawainya dan pada saat yang sama mempersiapkan diri mereka untuk melakukan perubahan.

Perencanaan karir  sebagai proses awal untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh organisasi, sekaligus merupakan acuan untuk selalu siap menggunakan kesempatan karir yang ada didalam jalur karirnya dan akan sangat membantu pegawai untuk merencanakan karir mereka dimasa depan dalam lembaga tersebut. Maskun (1997) mengemukakan bahwa perencanaan karir pada umumnya berorientasi kepada sistem struktural yang mengandung persyaratan kepangkatan, senioritas, kecakapan atau keistimewaan tertentu, perkembangan politis, primordial, dan keinginan pimpinan. Strata persyaratan jabatan karir yang demikian itu sangat kompetitif dan banyak mengandung polemik tentang keobyektivitasannya. Sehingga diperlukan perencanaan dan media pengembangan karier yang  fire and transparance

Secara umum perencanaan dan pengembangan karir adalah untuk mengidentifikasi sasaran karir dan jalur-jalur untuk menuju ke sasaran karirnya didalam suatu organisasi. Kepastian karir seseorang mempunyai manfaat yang besar bagi organisasi diantaranya menurunkan perputaran, mengungkap potensi, mendorong pertumbuhan, mengurangi penimbunan karyawan yang berprestasi dan berkualitas, meningkatkan kepuasan, mendorong keberhasilan dari rencana kerja yang telah disetujui.

Sadler (1994) menegaskan salah satu yang mempengaruhi keberhasilan/ kinerja adalah komitmen, yang tercermin dari tingkat kepuasan karyawan. Dengan perencanaan dan pengembangan karier yang jelas dan mantap diharapkan karyawan akan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. Greech (1996) mensinyalir bahwa munculnya fenomena kemangkiran, perpindahan karyawan serta rendahnya prestasi kerja mereka akibat dari rendahnya tingkat komitmen karyawan pada organisasi.

Kecamatan bagian darinya dibentuk untuk memberikan arak kebijakan dalam membantu Bupati untuk melaksanakan sebagian urusan otonomi daerah. Dalam rangka pelaksanakan tugas pokok tersebut, Kantor Kecamatan mempunyai fungsi sebagai berikut :

a.      Pengkoordinasian kegiatan pemberdayaan masyarakat

b.      Pengkoordinasian upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban

c.      Pengkoordinasian penerapan dan penegakan peraturan Perundang-undangan

d.      Pengkoordinasian pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum

e.      Pengkoordinasian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan

f.       Pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa/ atau kelurahan

g.      Pelaksanaan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan / atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan

Untuk mendukung kelancaran tugas, ditetapkan susunan organisasi Kantor Kecamatan di Kabupaten Probolinggo sebagai berikut :

a.      Camat

b.      Sekretaris Kecamatan

c.      Seksi Ketentraman dan ketertiban

d.      Seksi Pemerintahan

e.      Seksi Kesejahteraan Rakyat

f.       Seksi Perekonomian

g.      Seksi Pembangunan

h.      Kelompok Jabatan Fungsional

Untuk memberikan arah kebijakan dan pedoman dalam pelaksanaan tugasnya, maka melalui Keputusan Bupati No.13 Tahun 2001 tentang uraian tugas dan fungsi Kantor Kecamatan Kabupaten Probolinggo. Berangkat dari latar belakang pemikiran tersebut, dipilih judul Perencanaan dan pengembangan karier dan Komitmen Karyawan pengaruhnya terhadap prestasi kerja karyawan Kantor Kecamatan Kraksaan

  Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger