PENGARUH KEBIJAKAN PENGELOLAN SDM DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI DINAS PU PENGAIRAN KABUPATEN .. (390)

Memasuki era globalisasi di mana penggunaan teknologi informasi dan komunikasi global mengakibatkan informasi yang terjadi di berbagai belahan bumi dunia ini akan mudah untuk diikuti, bahkan mudah mempengaruhi semua penggunanya. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini dapat digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi orang lain, dengan demikian teknologi tidak lagi menjadi monopoli sekelompok orang tetapi telah menjadi alat yang cukup ampuh bagi sarana komunikasi, bahkan dalam perang sekalipun bisa jadi tidak lagi bertemu secara fisik tetapi melalui teknologi informatika ini.

Karena perlu diingat bahwa mereka yang menguasai teknologi mereka itu nantinya yang akan menguasai dunia. Pengaruh tersebut sangat besar, tidak hanya mempengaruhi individu semata tetapi telah menyebar mempengaruhi kelompok atau organisasi local dan global baik government maupun non government. Eksistensi dan keberlangsungan organisasi merupakan suatu proses yang tidak boleh terganggu dalam arti bahwa organisasi harus tetap eksis dan berkembang mengikuti perubahan lingkungan termasuk teknologi secara cepat.

Seiring dengan tuntutan lingkungan yang berubah ini, organisasi harus selalu menyesuaikan diri. Menyadari pengaruh lingkungan yang sangat cepat, baik internal maupun eksternal, yang bisa dikendalikan maupun di luar kendali organisasi maka kebutuhan untuk mengembangkan organisasi mutlak dilakukan.

Salah satu cara yang harus mendapat perhatian khusus adalah berkaitan dengan kebijakan pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia dapat diperoleh mulai dari proses rekrutmen yang dilakukan secara transparan dan selektif, pengembangan sumber daya manusia menyangkut kebijakan yang berkaitan dengan layanan kepangkatan, layanan informasi dan promosi serta pemberian cuti serta pengalaman kerja yang berkaitan dengan lamanya bekerja, pengalaman jabatan, pengalaman tugas, strategi dan komunikasi, di samping promosi dan mutasi yang mengacu pada tour of area dan tour of duty yang jelas.

Sebagaimana teori organisasi yang menyangkut berbagai pengaruh perubahan yang terjadi menuntut organisasi untuk membuka diri terhadap tuntutan perubahan dan berupaya menyusun strategi dan kebijakan yang selaras dengan perubahan dan berupaya menyusun strategi dan kebijakan yang selaras dengan tuntutan pegawai (Wayne, l991; Schuller and Jackson,1996 dalam Setyawan 2002) akan tergantung pada kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Artinya suatu organisasi mampu menyusun strategi dan kebijakan yang ampuh untuk mengatasi setiap perubahan yang terjadi. Keberhasilan penyusunan kebijakan dan strategi organisasi akan didukung lebih banyak fungsi manajerial yang ada (Datton & Jackson, 1987 dalam Setyawan, 2002).

Salah satu bidang fungsional strategi yang menjadi perhatian adalah manajemen Sumber Daya Manusia (Setyawan, 2002:3). Manajemen sumber daya manusia harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan tradisional (Ulrich, 1991 dalam Setyawan 2002:4). Untuk dapat menyusun strategi sumber daya manusia yang baik ternyata dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompetensi tinggi (Ghosal & Barlett, 1995 serta Ulrich 1007 dalam Setyawan, 2002:4) menyebutkan ada peran baru sumber daya manusia guna mendukung kompetensi sumber daya manusia yang dituntut oleh organisasi agar survive terhadap perubahan (Buweo et.a1, 1992 dalam Setyawan 2002:4). 

Upaya repositioning kompetensi sumber daya manusia dilakukan dengan merubah pemahaman organisasi tentang peran sumber daya manusia yang semula people issues menjadi people related business issues. Konsep yang relatif baru dalam proses manajemen sumber daya manusia yaitu mutu kehidupan berkarya. Pemikiran filosofis yang melatar belakangi konsep ini adalah :

a.              dalam mempekerjakan pegawai, yang digunakan bukan hanya tenaganya, akan tetapi lebih mengedepankan kemampuan inlelektualnya.

b.             Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia

c.              gaya manajerial yang didambakan adalah gaya yang demokratis

Jika menggunakan dasar filsafat yang lain dari dasar yang telah dikemukakan diatas, tidak mustahil para pegawai memiliki rasa tanggung jawab yang rendah terhadap keberhasilan organisasi. Pada gilirannya rasa tanggung jawab yang rendah itu dapat berakibat pada sikap yang menyatakan bahwa seseorang akan menjadi minimalis dalam arti kata hanya melakukan tugas sedemikian rupa sehingga persyaratan minimum terpenuhi, tetapi tidak lebih dari itu (Siagian, 1999:320).

Analisis dalam memperkirakan suplai tenaga kerja untuk organisasi harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti :

·               Jumlah tenaga kerja yang ada, yang dikategorikan berdasarkan fungsi, departemen, tipe pekerjaan dan pengupahan atau golongan.

·               Analisis persyaratan kerja dalam hal ilmu pengetahuan, kualifikasi, keahlian dan pengalaman.

·               Analisis karakteristik individu dalam hal usia, lama pengabdian, kualitikasi, pelatihan, pengalaman, keahlian dan tingkat kinerja.

·               Tingkatan rekruitmen dan ketahanan jumlah pegawai, tingkat penyusutan dan absensi.

·               Tingkatan promosi

·               Perubahan-perubahan potensial pada metode kerja atau permintaan akan jasa dan produk.

·               Tersedianya suplai baik dalam maupun luar organisasi.

Berdasarkan uraian di atas ini nampaklah bahwa peranan pengambilan kebijakan terhadap pegawai sekaligus proses pemilihan individu-individu yang memiliki kualifikasi yang relevan untuk ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang ada sangat menentukan perkembangan organisasi yang bersangkutan. Disini jelaslah bahwa tanpa pegawai yang memenuhi persyaratan suatu pekerjaan, maka organisasi tersebut berada dalam posisi yang lebih buruk untuk berhasil. Karena itu pemilihan pegawai yang akan ditempatkan pada salah satu pekerjaan lebih dari sekedar pemilihan orang terbaik dari yang tersedia, sebab harus dilihat dari berbagai segi seperti pengetahuan, keterampilan, perilaku / sikap dan pengalaman kerja yang sesuai adalah satu paket yang melekat pada manusia, sehingga ini merupakan, usaha untuk memperoleh ‘kecocokkan’ antara apa yang dapat dilakukan pegawai yang hendak ditempatkan dengan apa yang ingin dicapai, serta apa yang dibutuhkan oleh organisasi.

Kebijakan penempatan sumber daya manusia seharusnya dipandang sebagai proses pencocokan. Celah antara keahlian individual yang dimiliki dengan pekerjaan yang dipersyaratkan merupakan faktor-faktor umum yang harus dipegang teguh untuk tidak menempatkan orang yang tidak tepat tersebut. Karena seberapa baiknya si pegawai berdasarkan kelebihan yang dimilikinya kemudian dicocokan dengan sebuah pekerjaan dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas kerjanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Memoria (1980), yang mengemukakan bahwa penempatan pegawai mengandung arti pemberian tugas tertentu kepada pekerja agar ia mempunyai kedudukan yang paling baik dan paling sesuai dengan didasarkan pada rekruitmen, kualifikasi pegawai dan kebutuhan pribadi. Penempatan yang tepat merupakan cara untuk mengoptimalkan kemampuan, keterampilan menuju prestasi kerja bagi pegawai itu sendiri.

Berkaitan dengan kebutuhan mengevaluasi keefektifan proses manajemen sumber daya manusia dalam sebuah organisasi, peneliti Harvard (dalam Stoner dkk yang mana di-Indonesia-kan oleh Alexander Sindoro, 1996:93) mengajukan usul model “empat C” yaitu : competence, commitment, congruence dan cost effectiveness (kompetensi, komitmen, keserasian dan efektivitas biaya).

Setiap organisasi pemerintahan harus mampu menempatkan pegawainya pada posisi yang tepat. Artinya tempatkan mereka pada posisi yang sesuai dengan keterampilan masing-masing. Ketidaktepatan menempatkan posisi akan menyebabkan pekerjaan menjadi kurang lancar dan tidak dapat memperoleh hasil yang maksimal. Disamping itu, semangat kerja dan kegairahan kerja mereka akan menurun. Ada pula pegawai yang sebenarnya telah tepat pada posisinya, namun karena tugas ini dijalani terlalu lama mungkin kebosanan akan muncul. Kemudian semangat kerja dan gairah kerjanya akan menurun pula.

Hal lain yang sangat perlu diperhatian dalam proses pengambilan kebijakan pengelolaan SDM dan pengalaman kerja perihal penempatan ini adalah bagaimana mendapatkan ‘orang yang tepat pada tempat yang tepat” dalam arti dinamis artinya bukan hanya yang dibutuhkan untuk masa sekarang, tetapi juga untuk masa yang akan datang.

Hal ini disebabkan orang-orang yang telah kita terima kurang mempunyai potensi untuk dipromosikan. Ini bukanlah kesalahan orang tersebut sebab hanya demikian batas kemampuannya. Meskipun begitu, mereka yang sudah lama bekerja, yang berarti loyalitasnya cukup tinggi, bagaimanpun akan merasa kecewa. Ini semua dapat menyebabkan turunnya semangat dan kegairahan kerja atau tingginya tingkat perpindahan pegawai (Nitisemito, 1996:37).

Berikut pembahasan mengenai pengalaman kerja bagi pegawai, menyangkut variabel usia dan pengalaman kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemauan dan kebanggaan pegawai pada organisasi. Pengalaman kerja, seperti keandalan organisasi di masa lampau dan cara pekerja lainnya memperbincangkan dan mengutarakan perasaan mereka mengenai organisasi mempengaruhi diri pribadi pegawai maupun pekerjaan yang ditangani. Pengalaman kerja menunjukkan berapa lama pegawai dapat bekerja dengan baik. Pengalaman kerja yang telah didapat seorang pegawai akan dapat meningkatkan kemampuan dalam bekerja.

Kinerja hanya dapat ditingkatkan dengan motivasi kerja yang tinggi, pengetahuan dan keahlian dalam melakukan tugas dan persepsi peran yang positif dimiliki seseorang. Dengan demikian kinerja merupakan fungsi motivasi, keahlian dan persepsi. Dapat dikatakan bahwa ada dua dimensi penting dalam memahami konsep kinerja yaitu dimensi motivasi dan dimensi kemampuan (keahlian dan persepsi). Dengan kata lain seorang pegawai akan mencapai kinerja yang tinggi, jika memiliki motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas­-tugasnya dan ditunjang oleh pengalaman kerja yang dimiliki. Disamping itu kondisi lingkungan kerja juga turut berpengaruh dalam mengukur kinerja suatu organisasi.

Perubahan lingkungan yang cepat dan dramatis akan membawa implikasi pada tuntutan dan tantangan yang mesti dihadapi oleh organisasi. Setiap organisasi usaha hidup dan berkembang untuk senantiasa berada dalam kondisi siap melakukan perubahan secara dramatis pula. Karena itu organisasi dituntut untuk memiliki learning process yang cepat ( Kennedy, 1999 : 121-137). Tuntutan yang demikian akan mengakibatkan munculnya tantangan baru, di mana satu diantaranya adalah menyangkut intellectual capital yakni bagaimana mendapatkan, mengasimilasikan, mengembangkan, dan pengalaman kerjanya, serta memelihara individu-individu berbakat yang dapat mendorong organisasi untuk tanggap terhadap pelanggan dan peluang teknologi.

Pengalaman kerja tidak dapat dilepaskan dengan lamanya bekerja, pekerjaan seseorang yang mempunyai otonomi untuk bertindak, terdapat variasi, perhatian terhadap pengalaman kerja memberikan sumbangan penting dalam keberhasilan organisasi dan pegawai memperoleh umpan balik tentang hasil pekerjaan yang dilakukannya. Bentuk program perkenalan yang tepat serta berakibat pada diterimanya seseorang sebagai anggota kelompok kerja dan oleh organisasi secara ikhlas dan terhormat juga pada umumnya berakibat pada tingkat kepuasan kerja yang tinggi. Situasi lingkungan pun turut berpengaruh pada pengalaman kerja seseorang. Pemahaman yang lebih tepat tentang pengalaman kerja dapat dikaitkan dengan prestasi kerja, tingkat kemangkiran, keinginan pindah, usia pekerjaan, tingkat jabatan dan besar kecilnya organisasi (Siagian, 1999:295).

Sementara itu pakar lain berpendapat bahwa pengalaman kerja, dapat digunakan Job Descriptive Index (JDI) yang menurut Luthans, 1995 (dalam Elusein Umar, 2000:36) ada lima. Yaitu :

1.                Pembayaran, seperti gaji dan upah.

2.                Pekerjaan itu sendiri.

3.                Promosi Pekerjaan.

4.                Kepenyeliaan (supervisi).

5.                Rekan sekerja.

Salah satu upaya yang disinyalir dapat memacu prestasi para pegawai adalah melalui pengambilan kebijakan untuk pegawai menyangkut layanan kepangkatan, informasi dan promosi, cuti serta peningkatan pengalaman kerjanya. Kebijakan pengelolaan SDM dan pengalaman kerja ini merupakan upaya manajemen personalia pemerintah daerah dalam mengembangkan kompetensi pegawai negeri sipil di lingkungan kerjanya. Kebijakan strategis yang menyangkut seluruh program dan prosedur administrasi kepegawaian sebagai wujud pelayanan manajemen personalia pada seluruh pegawainya

Menyikapi fenomena tersebut di atas, penelitian ini memfokuskan pada masalah pengaruh kebijakan pengelolaan SDM dan pengalaman kerja terhadap kinerja pegawai Dinas PU Pengairan Kabupaten Probolinggo.

  Klik Download Untuk mendapatkan File Lengkap


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download Tesis Gratis

Cara Seo Blogger